Membaca ekstensif merupakan cara membaca secara cepat dan sekilas dengan
tujuan memahami gambaran isi buku secara umum. Dalam, membaca
ekstensif, diperlukan kecepatan dan ketepatan. Detail atau perincian
bacaan tidak perlu dihafalkan, tetapi cukup dibaca sekali dan dipahami
gagasannya. Teknik membaca ekstensif hampir sama dengan teknik membaca
cepat, yaitu membaca secara cepat dan sekilas tanpa mengurangi pemahaman
terhadap isi bacaan. Hal terpenting dari teknik membaca secara
ekstensif ialah menemukan gagasan secara tepat. Untuk menemukan gagasan
dari beberapa artikel atau buku dalam waktu singkat, bacalah
artikel-artikel atau buku tersebut sekilas saja (ekstensif).Berikut ini merupakan salah satu teknik membaca yang dikenal istilah membaca dengan teknik POINT. Langkah-langkah membaca dengan teknik POINT seperti berikut ini:
- Purpose yaitu menentukan tujuan membaca. Informasi apa yang hendak diinginkan? Perlukah membaca buku secara keseluruhan?
- Overview atau membaca sekilas yaitu melakukan peninjauan awal secara sekilas mengenai keseluruhan isi buku.
- Interpretasi atau menafsirkan yaitu setelah membaca sekilas kemudian tafsirkan isinya.
- Note atau mencatat, maksudnya setelah membaca secara teliti dan memahami isinya buatlah catatan-catatan penting untuk memudahkan ingatan.
- Test atau menguji, maksudnya pada akhir membaca Anda harus mengevaluasi mengenai apa saja yang telah dibaca dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
ARTIKEL 1
Menyoroti Pemakaian “Nol” dan
“Kosong” di Masyarakat

Berbahasa
Indonesia dengan benar dalam komunikasi merupakan sebuah bukti
kecintaan kita kepada bangsa, negara, dan tanah air kita. Bahasa
Indonesia tidak dapat kita lepaskan dengan rakyat Indonesia itu sendiri
karena rakyat Indonesia adalah pengguna sekaligus pendukung bahasa
Indonesia. Hidup dan matinya bahasa Indonesia sebenarnya tergantung
pemakaiannya oleh rakyat Indonesia. Kita sebagai rakyat Indonesia harus
memakai bahasa Indonesia secara baik dan benar untuk melestarikan dan
menduniakan bahasa Indonesia. Pemakaian bahasa Indonesia itu sendiri
sebnarnya merupakan sebuah kebutuhan bagi kita untuk dapat berkomunikasi
dengan orang lain. Apa jadinya jika kita tidak memakai bahasa Indonesia
saat ingin berkomunikasi dengan orang yang tidak menguasai bahasa
daerah kita. Tentunya kita kesulitan dalam mengungkapkan isi pikiran dan
perasaan kita kepada orang lain tersebut. Dalam kaitannya dengan
pemakaian bahasa Indonesia oleh masyarakat, terdapat satu masalah yang
hingga saat ini masih terjadi.
Kita tentu sering mendengar orang menggunakan kata kosong untuk
menyebut angka yang dilambangkan dengan “0” di masyarakat. Hal ini
kerap kita dengar saat orang menyebut angka tersebut di awal nomor
telepon seluler. Contohnya, kosong delapan sembilan belas dan
seterusnya. Jika kita perhatikan Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga tahun 2001, katakosong itu
mengandung beberapa makna. Makna pertama ialah ‘tidak berisi’.Makna
yang pertama ini dapat kita pakai dalam kalimat seperti, Lemari kosong ini dapat kita gunakan untuk menyimpan pakaian anak-anak kita. Makna kedua ialah ‘tidak berpenghuni’. Makna yang kedua ini dapat kita pakai dalam kalimat seperti, Rumah itu sudah lama kosong. Makna-makna lainnya dari kata kosong ini
ialah ‘hampa’, ‘tidak mengandung arti’, ‘tidak bergairah’, ‘tidak ada
yang menjabatnya’, ‘tidak ada sesuatu yang berharga’, dan ‘tidak ada
muatannya’.
Makna-makna dari kata kosong di
atas tidak ada satu pun yang mengarah kepada kata bilangan. Padahal
angka yang dilambangkan dengan “0” merupakan kata bilangan. Dengan
melihat makna-makna kata kosongtersebut, tentulah kita tidak tepat memakai kata kosong untuk
menyebut angka yang dilambangkan dengan “0” seperti dalam deret pertama
nomor telepon seluler. Lalu adakah kata dalam bahasa Indonesia yang
tepat untuk kita gunakan dalam menyebut angka yang dilambangkan dengan
“0” itu? Jawabanya adalah ada. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga tahun 2001 terdapat kata nol yang bermakna ‘bilangan yang dilambangkan dengan 0’. Kata nol inilah yang tepat kita pakai untuk menyebut angka yang dilambangkan dengan “0”.
Melihat
kenyataan di masyarakat kita saat ini dan kita kaitkan dengan kebenaran
dalam pemakaian bahasa Indonesia, sudah saatnya kita tidak menggunakan
kata yang salah seperti kata kosong tersebut. Jika kita ingin
menyebut angka-angka dalam nomor telepon seluler, pakailah kata yang
benar dalam bahasa Indonesia. Misalnya 085751076399 pakailah kata noluntuk menyebut angka pertama dan ketujuh dalam nomor telepon tersebut. Kita sebaiknya tidak menggunakan kata kosong untuk menyebut angka pertama dan ketujuh dalam nomor telepon contoh di atas. Hal ini disebabkan kata kosong bukanlah kata bilangan.
Sebagaimana
yang sudah saya paparkan di atas, marilah kita berusaha untuk berbahasa
Indonesia secara baik dan benar. Dalam hal ini tentunya kata yang benar
untuk menyebut angka yang dilambangkan dengan “0” juga harus kita
pakai. Kata yang benar untuk penyebutan angka yang dilambangkan dengan
“0” ini adalah kata nol karena kata nol bermakna ‘bilangan
yang dilambangkan dengan 0’. Pemakaian kata yang salah dalam berbahasa
Indonesia saharusnya kita hindari sejauh mungkin. Berbahasa Indonesialah
secara baik dan benar untuk menuju masyarakat madani dalam hal
berbahasa. Bagaimana menurut kalian?
ARTIKEL 2
Penggunaan Bahasa Indonesia, Daerah serta Bahasa Asing Secara Seimbang
sebagai Wahana Pengembangan Jati Diri dan Karakter Bangsa
Indonesia
merupakan negara yang memiliki keanekaragaman budaya, bahasa daerah,
agama dan adat istiadat. Pada tanggal 28 Oktober 1928, lebih dari 700
orang yang terdiri atas wakil-wakil perkumpulan pemuda hadir dalam rapat
akbar untuk menyuarakan sumpah setia mereka yang terkenal hingga saat
ini bernama Sumpah Pemuda. Salah satu bunyi dari sumpah pemuda
"Menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia." Itu berarti
menaati dan memuliakan bahasa Indonesia sebagai bahasa peratuan dan
nasional Indonesia.
Namun,di era globalisasi seperti sekarang ini
merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia untuk dapat mempertahankan
diri di tengah-tengah pergaulan antar bangsa yang sangat rumit. Untuk
itu bangsa Indonesia harus mempersiapkan diri dengan baik dan penuh
perhitungan. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah masalah jati
diri bangsa yang diperlihatkan melalui jati diri bahasa Indonesia,
memperlihatkan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang sederhana, tata
bahasa mempunyai sistem sederhana, mudah dipelajari, dan tidak rumit.
Kesederhanaan dan ketidakrumitan inilah salah satu hal yang mempermudah
bangsa asing ketika mempelajari bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia
menjadi ciri budaya bangsa Indonesia yang dapat diandalkan di tengah-
tengah pergaulan antar bangsa pada era globalisasi ini.
Bangsa
Indonesia sebagai pemakai bahasa Indonesia, seharusnya bangga
menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. Dengan bahasa
Indonesia, mereka bisa menyampaikan perasaan dan pikirannya dengan
sempurna dan lengkap kepada orang lain .Sikap kesetiaan berbahasa
Indonesia terungkap jika bangsa Indonesia lebih suka memakai bahasa
Indonesia dari pada bahasa asing dan bersedia menjaga agar pengaruh
asing tidak terlalu belebihan. Yang perlu dipahami adalah sikap positif
terhadap bahasa Indonesia ini tidak berarti sikap berbahasa yang
tertutup dan kaku. Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus bisa
membedakan mana pengaruh positif dan mana pengaruh yang negatif terhadap
perkembangan bahasa Indonesia. Sikap positif seperti inilah yang bisa
menanamkan rasa percaya diri bangsa Indonesia bahwa bahasa Indonesia
memberikan perubahan signifikan bagi terciptanya disiplin berbahasa.
Disamping itu, disiplin berbahasa nasional sangat diperlukan untuk
menghadapi pergaulan antar bangsa dan era globalisasi ini. Seseorang
yang berdisiplin berbahasa nasional menunjukan rasa cinta kepada bahasa,
tanah air, dan NKRI.
Penggunaan Bahasa Indonesia dan Daerah
serta bahasa Asing di masyarakat sebagai wahana pengembangan Jati diri
bangsa perlu di lakukan karena berbagai faktor ,di antaranya kuatnya
pengaruh negatif media massa (cetak dan elektronik) terhadap penggunaan
bahasa Indonesia di masyarakat menyebabkan banyak terjadi salah kaprah
sehingga mengalami pelbagai "perlakuan" oleh masyarakat
pemakainya.Kurangnya perlindungan terhadap bahasa daerah (bahasa ibu)
yang mulai terancam punah juga belum optimalnya pemanfaatan budaya
(seni) dalam meningkatkan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa
internasional. Selain itu masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam
penggunaan bahasa Indonesia yang benar serta rendahnya pemahaman
masyarakat terhadap bahasa sebagai pemersatu dan jati diri bangsa
sehingga keteladanan dalam menggunakan bahasa Indonesia yang benar
semakin berkurang.Begitupun dengan interaksi dengan bangsa lain yang
kurang dapat diterima dengan baik akibat kendala tidak mahir berbahasa
asing membuat komunikasi menjadi sedikit kacau.
Maka dari itu
perlunya pembagian pemakaian bahasa Indonesia,daerah serta asing secara
seimbang yaitu menggunakan bahasa yang sesuai dengan porsi, konteks,
situasi, dan kondisi yang ada.Dengan menguasai bahasa Indonesia dengan
baik dan benar, peduli sastra Indonesia, serta lancar berbahasa daerah
dan asing dapat memberikan manfaat yang baik bagi bangsa Indonesia
maupun diri sendiri. Manfaat bagi bangsa Indonesia, yaitu menjaga bahasa
Indonesia sebagai bahasa kesatuan, melestarikan bahasa daerah sebagai
kekayaan budaya serta meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia dengan
penguasaan bahasa asing di masyarakat. Manfaat bagi individu yang
menguasai bahasa dan sastra Indonesia, daerah serta asing, yaitu dapat
diterima di lingkungan masyarakat dengan mudah karena pandai
berkomunikasi, dapat lebih arif dalam menjalani kehidupan dengan
bersastra, dan meningkatkan mobilitas dengan menguasai bahasa asing.
Berkaitan
dengan hal tersebut, adanya ajang pemilihan duta bahasa yang telah
berlangsung dari tahun ke tahun sudah sepantasnya para peserta duta
bahasa yang berasal dari berbagai daerah dapat diberdayakan sebagai
mitra kerja pusat bahasa untuk diterjunkan ke daerah asal masing-masing
untuk melakukan Program Peduli Bahasa sehingga ajang tersebut tidak
terkesan sia-sia tanpa ada kegiatan yang berkelanjutan.
Jadi,menggunakan
bahasa Indonesia ,Daerah,serta bahasa Asing secara seimbang dalam
kehidupan sehari-hari merupakan salah satu cara untuk mengembangkan
karakter serta jati diri bangsa.Dimana penguasaan bahasa asing juga
turut menyumbangkan manfaat yaitu masyarakat Indonesia bisa
memperkenalkan budaya bangsa sendiri serta dapat berkomunikasi dengan
lancar ataupun bertukar pendapat dengan baik sehingga kita tidak akan
tertinggal dari bangsa lain dalam hal ilmu pengetahuan,teknologi,maupun
pergaulan internasional.
Hal ini tentu membutuhkan banyak dukungan
serta peran masyarakat sendiri dalam membentuk jati diri serta karakter
bangsa agar tercipta generasi muda sebagai generasi penerus bangsa yang
bangga terhadap bahasa Indonesia namun tetap terbuka pandangannya
terhadap bahasa lain. Dengan meningkatkan rasa cinta pada bahasa
Indonesia secara otomatis meningkatkan rasa cinta tanah air. Sehingga
terbentuk karakter serta jati diri bangsa Indonesia yang sesuai dengan
pepatah bahwa "Bahasa Menunjukan Bangsa".